Terjaga aku dalam mimpi
Diantara remangnya selimut malam
Sepoi angin menyibak tirai kemuning
Mengintip dibalik awan tipis
Sedikit ragu kubuka mata ini
Sejurus kuregang semua penat
Kutanggalkan jubah dan mahkotaku
Kusarungkan pedang dan panji
Masih terdengar hiruk pikuk para saudagar
Berebut muatan kapal yang baru saja bersandar
Mengais sutera dan periuk
Berbekal peti-peti kayu yang mulai lapuk
Dari kejauhan kulihat dirimu
Melangkah pada titian menuruni kapal
Melihat dunia di sekitarmu
Satu bandar yang mungkin baru kau kenal
Tampak penat di wajahmu
Entah berapa samudra telah kau arungi
Menentang ombak dan badai
Berlabuh dari satu bandar ke bandar lain
Seketika angin berhembus kencang
Ombak datang bergulung-gulung
Menggoyang kapal-kapal yang sedang berlabuh
Menerbangkan surban dan cadarmu
Rambutmu terurai
Tampak olehku mata indahmu
Terpaku diriku menatapmu
Terdiam membisu di sudut jendela
Hingga kusadari surbanmu melayang ke arahku
Tertambat diantara jala-jala yang kurajut sore tadi
Setengah berlari ku melompati jendela
Bergegas meraih surban putihmu yang mulai usang
Sebelum angin menerbangkannya lagi
Tertegun aku sejenak
Kutatap surban yang sudah agak usang di genggamanku
Ada aroma lautan yang khas tercium disana
Aroma yang tak pernah kutemui di pantai ini
Terperanjat aku mendapatimu berdiri di sampingku
Paras cantik dan rambut indah yang tadi kulihat dari kejauhan kini ada dihadapanku
Berdiri mengamatiku penuh tanya
Kusodorkan surban ditanganku
Dan kulihat senyum manismu
Dan kudengar sebait kata terimakasih
Kau kembali ke kapalmu
Aku masih terdiam disitu