Jul 24

fajar kembali muncul
mentari yang sama dari sudut cakrawala yang sama
membuka lembaran baru hari ini
menambahkan jingga pada selimut tanah yang kupijak

sorot cahaya membelah embun
memecah kabut pagi nan mulai menipis
membentangkan bayangan dan gradasi warna
menorehkan jejak nan terus berlari seiring jalannya waktu

bayangku kian mendekat
ujung kepala nan jauh disana
samar-samar mulai nampak di sisiku
membentuk garis tubuh yang semakin jelas

tepat di samping bayangan itu
sosok lain bermunculan
bayang-bayang hitam di atas tanah
lalu-lalang silih berganti

mentari semakin tinggi
dedaunan mulai menampakkan warnanya
menebarkan kesejukan sisa-sisa embun pagi tadi
menaungiku diantara bayang-bayangnya

kaki ini mulai melangkah
satu demi satu jejak membekas di atas tanah ini
menyisakan lekukan-lekukan beraturan
membentuk pola nan menyimpan sejuta makna

langkahku semakin jauh
jejak kakiku semakin panjang
terus bertambah
lagi dan lagi

mentari mulai terik
menyinariku dan segala sesuatu di sekitarku
menerangi setiap langkah yang kubuat
dan menuntunku menyusurinya

sejenak langkah ini terhenti
diatas bebatuan hitam bergelombang
tempat menambatkan pelana dan laso
sekedar meregangkan tulang dan otot

mentari masih begitu terik
kala tubuh ini terduduk sendiri di atas cadas
dikelilingi angin siang nan sedikit berdebu
membawa salam dari kota

perjalanan berlanjut
kuukir langkah-langkah baru diatas tanah
menorehkan pertanda keberadaan dan ketiadaan
pada siapapun yang melihat jejaknya

ke timur kulangkahkan kaki
dimana mentari mulai condong di belakangku
sembari berdendang menyapa alam
dan menari bersamanya

langkahku terhenti sejenak
sosok yang tadi menemani bayangku kembali lagi
menampakkan wujud jelitanya
berkalang suara merdu dan langkah ceria

senja mulai menyapa
bertutur kata lembut menjemput malam
menuangkan dingin dan sejuknya ke atas kami
menyelimuti hari dengan kegelapan

diantara gelap dan dinginya malam
bayangan-bayangan tadi mulai menghilang
seiring sirnanya cahaya mentari
nan terusik senja malam ini

kepala nan tertunduk mulai menengadah
meraba-raba dalam gelap
kuamati satu sosok dengan seksama
sosok yang kulihat bayangannya siang tadi

sedikit demi sedikit mulai jelas dimataku
terekam dengan baik setiap sudut padanya
setiap sisi dirinya
dan segala sesuatu tentangnya

sebait senyum yang menghangatkan dinginnya malam
ceria yang menyinari gelapnya malam
laksana mentari yang beranjak terbit
menghadirkan suasana pagi di malam-malamku

tercatat rapi laksana puisi
terpahat indah bak prasasti
setiap ingatan-ingatan tentangnya
sosok fajar di desa kami

Nyemoh, 24 Juli 2008 01:48

Jul 7

Akhirnya aku KKN juga semester ini. Setelah semester lalu kubatalin demi pergi ke tanah suci. Kebagian wilayah di Desa Nyemoh, Kecamatan Beringin, Kabupaten Semarang. Tempat yang asik bgt buat KKN. Sekelompok ada 11 orang yang dengan berbagai karakter dan rupa masing2. Beberapa kali kami jalan2 kesana, sekedar survei, pengumpulan data, hingga piknik. Begitu kompak teman2 sedesaku hingga tak heran meski KKN belum juga dimulai, kami sudah pernah kesana 4-5 kali dengan alasan ini-itu.

mampir di warung

Hari itu, lima orang dari kami ke nyemoh lagi. Hanya ada beberapa hal yang perlu dibicarakan dengan pak Bangun (kades Nyemoh). Tak lama, urusan kami pun selesai. Trus enaknya ngapain ya… Jalan2 lah, mumpung di kampung hehehe… Pemberhentian pertama merupakan sebuah warung kecil di pinggir jalan ke arah dusun Kuncir. Seperti biasa, kami pesan temulawak, minuman favoritku sewaktu kecil dulu. gorengan senampan ludes oleh keganasan kami berlima. Bra dengan jaket KKN yang belum dicuci, Devi yang sempat marah2 gara2 nunggu aku kelamaan, Ank si kordes yang sok2an marah di sms padahal cupunya bukan main, aku dengan jaket ijo ala elektro, dan yang paling ujung Meta yang ngakunya baik hati dan tidak sombong ;)

Perjalanan berlanjut, sambil mbungkus sisa tahu yang masih anget, dasar si devi suka banget ma tahu…

Itung-itung jalan2, kami menyusuri seisi Nyemoh. mulai dari warung tadi, terus masuk kampung ke arah Tunggul, dusun yang paling tepencil di Nyemoh.  Masuk hutan, kami memutuskan tidak masuk ke dusun Tunggul, daripada muter kedalem, trus lewat hutan deh… Aku mulai bernyanyi “bolang si bolang… bocah petualang… ” bikin devie mules, hahaha…

tengah hutan

Namanya juga anak Nyemoh. Nggak di pembekalan, di rapat kecamatan, di studio foto, di kampung, tetep narsis ;) beberapa moment berhasil diabadikan pake kamera Bra… Masih banyak yang lain, tapi sayang hostingnya kalo diisi foto2 thok… hehehe…